Minggu, November 07, 2010

Bersahabat Dengan Mantan, Mungkinkah?




My ex boyfriend (c) thinkbudget

Yang namanya putus cinta itu memang sudah biasa. Berani menjalani sebuah komitmen, berani pula menghadapi jika ternyata memang Anda dan si dia harus putus hubungan. Namun setelah beberapa lama berpisah, Anda sudah punya pasangan dan dia juga sudah punya pasangan, mungkinkah persahabatan Anda dengan mantan dilanjutkan?

KapanLagi.com - Oleh: Agatha Yunita


Beberapa orang yang saya jumpai mengatakan, "oh ya pasti bisa dong. Kan kita ini nggak ingin cari musuh ya. Inginnya cari teman," begitulah kata mereka, dan mungkin menurut saya juga, dulu. Namun kenyataannya, tak bisa dipungkiri bahwa persahabatan dengan mantan bukanlah suatu persahabatan murni. Bagaimanapun tentunya ada masih ada arus-arus listrik yang kemungkinan bisa mengalir dan kemudian nyambung kembali saat bertemu. Istilah bekennya, masih ada chemistry yang tiba-tiba muncul saat sering adanya kontak dan komunikasi. 



Mungkin kita bisa menyangkal, ah, si dia kan sudah ada yang punya, begitupun dengan Anda. Tetapi separuh hati Anda tak akan bisa ditutupi dan disembunyikan, bahwa mungkin masih ada setitik perasaan Anda padanya, begitupun dengan dia. Setitik, kedengarannya sangat sedikit, namun jangan diremehkan lho. Hanya karena nila setitik saja bisa rusak susu sebelanga. 



Percaya atau tidak, persahabatan dengan mantan tak akan pernah menjadi sebuah persahabatan yang murni. Setidaknya pasti di saat Anda atau dia sedang ribut dengan pasangan, maka Anda dan dia akan saling curhat dan berbagi perasaan. Nah, jika salah satu di antara Anda ada yang merasa kecewa dan terluka, apa iya sih Anda tega membiarkannya menangis dan sedih sendirian? Awalnya sih Anda akan menelepon dia, kemudian menguatkan hatinya, memberi semangat. Ceritapun terus berlanjut, ia masih sedih dan dia berpikir bahwa pasangannya selingkuh. Anda pun turut bersimpati padanya, kemudian Anda berdua janjian untuk bertemu satu sama lain. Dari situ Anda kemudian meremas tangannya lembut dan menunjukkan bahwa Anda ada di sana untuk mendukungnya. Tak berhenti di situ, ternyata pasangan si dia benar-benar kelewatan. Katanya sih dia itu kedapatan sedang bertelepon mesra dengan seseorang. Kecewalah, si mantan Anda. Lalu, Anda mengajak si dia bertemu, memeluk dan menyediakan bahu untuknya. Hangat, dan nyaman. Itulah yang dirasakan sang mantan saat itu. Rasanya bebannya berkurang, dan dia merasa ada semangat yang menguatkan dirinya. Dan di situ pula muncul kembali perasaan sayang. Dia pun berpikir bahwa ternyata Andalah orang yang tepat untuk mendampinginya. Ia menyesal telah putus dari Anda. Dan, ternyata dengan kedekatan Anda dengannya, Anda merasa hal yang sama. Ingin selalu dekat dan melupakan pasangan Anda. Bagi Anda saat ini, pasangan adalah orang yang kurang mengerti. Tak terlalu perhatian seperti sang mantan.[break]



Dan, eng ing eng, terjadilah sebuah perselingkuhan. Dan Anda dan dia sepakat untuk mengakhiri hubungan dengan pasangan (jika Anda berani), atau malah memilih sembunyi-sembunyi dan menjalani cinta secara gerilya. 



Tapi kan tidak semua mantan yang bersahabat demikian?



Beberapa di antaranya sih memang 'tampaknya' bisa bersahabat secara sehat. Namun tahukah Anda bahwa di antara keduanya saling menahan dan menekan perasaan masing-masing? Tanpa disadari memang demikian. Tetapi hal itu bisa jadi hal yang positif, karena itulah yang harus dilakukan oleh kita yang sudah punya pasangan. Jika bersahabat dengan mantan, berusaha sebisa mungkin untuk menjaga hubungan tersebut hanya sebatas mantan. Memang bicara saja tak mudah, bahkan saat saya menuliskan hal ini, saya jadi ingat beberapa kejadian di masa lalu saat bersahabat dengan mantan, dan akhirnya chemistry di antara kami kembali terjalin. Oopss... saya cut di sini, karena kelanjutan ceritanya sedang saya rajut saya simpan di dalam diary pribadi saya. Ok, kita lanjut. Jadi apakah Anda akan memilih bersahabat dengan mantan, maksud saya, persahabatan yang tulus?



Iya, dong!



Jika memang Anda memilih untuk bersahabat tulus dengan mantan, selalu ingat bahwa Anda dan dia sudah berakhir. Bahkan saat ini mungkin Anda dan dia sama-sama sudah memiliki pasangan. Jadi jika memang si dia punya masalah atau suatu unek-unek, sebaiknya berikan opini secara objektif. Dan tentu, benar-benar posisikan diri Anda sebagai sahabat, bukan mantan pacar.



Hal berikutnya, hindari kembali mengingat-ingat kenangan yang pernah terjadi di antara Anda dan si dia. Jika dia mulai mengungkit-ungkit lagi, katakan dengan sopan bahwa Anda tak ingin mengingat kejadian di masa lampau. 



Sebisa mungkin hindari pertemuan berdua, dan jangan membuka atau menceritakan masalah pribadi Anda dengan pasangan. Ini sama saja dengan memukul genderang perang dan membuka lebar-lebar gerbang hati Anda untuk sang mantan.



Tidak, tidak perlu bersahabat!



Anda yang mungkin menyadari bahwa ternyata diri Anda tak cukup kuat mengendalikan diri, sebaiknya jangan bersahabat terlalu dekat dengan mantan. Bukan berarti Anda harus musuhan ya, tetap berteman namun jaga jarak Anda sejauh mungkin.



Hindari pula kontak atau komunikasi yang terlalu intens dan akrab. Jika memang tak sengaja Anda diharuskan semeja dengan si dia, bicarakan saja hal-hal umum dan hindari pembicaraan pribadi.



Kita memang tidak dilahirkan untuk mencari musuh, tetapi menutup erat gerbang hati untuk sang mantan akan lebih bijaksana jika Anda atau si dia sama-sama masih memiliki komitmen dengan orang lain. Jika toh sama-sama single, ya bolehlah Anda pikirkan kembali. (wo/bee)

sumber
http://woman.kapanlagi.com/relationship/love/4039-bersahabat-dengan-mantan-mungkinkah.html

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

 

Cookies Copyright © 2009 Designed by Ipietoon Blogger Template In collaboration with fifa
Cake Illustration Copyrighted to Clarice