Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan

Rabu, November 10, 2010

Inilah Yang Tidak Dapat Diucapkan Seorang Ayah



Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya….. 

Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.. 
Lalu bagaimana dengan Papa? 

Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu? 
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian? 

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil…… 
Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. 
Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu… 
Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya” , 
Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka…. 

Tapi sadarkah kamu? 
Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA. 

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba. 
Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang” 
Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi? 

Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : “Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”. 
Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. 
Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu. 

Ketika kamu sudah beranjak remaja….. 
Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”. 
Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu? 
Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga.. 
Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu… 
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama…. 
Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, 
Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu? 

daddy-love 

Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia…. :’;) 
Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu.. 
Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu? 

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya. 
Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir… 
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut – larut… 
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. . 

Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang? 
“Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa” 

Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur. 
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti… 
Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa 

Ketika kamu menjadi gadis dewasa…. 
Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain… 
Papa harus melepasmu di bandara. 
Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu? 
Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. . 
Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat. 
Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”. 
Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT….kuat untuk pergi dan menjadi dewasa. 

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa. 
Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain. 
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan… 

Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : “Tidak…. Tidak bisa!” 
Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu”. 
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum? 

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana. 
Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. 
Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang” 

Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya. 
Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin.. 
Karena Papa tahu….. 
Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti. 

Dan akhirnya…. 

Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia…. 
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis? 
Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa…. 
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: “Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik…. 
Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik…. 
Bahagiakanlah ia bersama suaminya…” 

Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk… 
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih…. 
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya…. 
Papa telah menyelesaikan tugasnya…. 

father dayPapa, Ayah, Bapak, atau Abah kita… 
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat… 
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis… 
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. . 
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal.. 

Saya mendapatkan notes ini dari seorang teman, dan mungkin ada baiknya jika aku kembali membagikannya kepada teman-teman ku yang lain. 

Tulisan ini aku dedikasikan kepada teman-teman wanita ku yang cantik, yang kini sudah berubah menjadi wanita dewasa serta ANGGUN, dan juga untuk teman-teman pria ku yang sudah ataupun akan menjadi ayah yang HEBAT ! 

Yup, banyak hal yang mungkin tidak bisa dikatakan Ayah / Bapak / Romo / Papa / Papi kita… tapi setidaknya kini kita mengerti apa yang tersembunyi dibalik hatinya


sumber
maaf lupa, kalo ada yang tau sumbernya, comment ya..makasih
Continue reading...

After married


Ini mudah-mudahan menjadi renungan buat anda semua yang sudah menikah. Lucu namun juga bisa menjadi kenyataan, mungkin saja anda sendiri yang mengalami hal seperti ini.

Sebelum Tidur :
6 weeks : selamat bobo sayang, mimpi indah ya, mmmuach.
6 months : tolong matiin lampunya, silau nih.
6 years : besok kita beli selimut 1 lagi ya biar ngga rebutan gini.

Pake Toilet:
6 weeks : ngga apa2, kamu duluan deh, aku ngga buru2 koq.
6 months : masih lama ngga nih?
6 years : brug! brug! brug! (suara pintu digedor), kalo mau tapa di gunung kawi sono!

Ngajarin Nyetir:
6 weeks : hati2 say, injek kopling dulu baru masukin perseneling ya.
6 months : pelan2 dong lepas koplingnya.
6 years : pantesan sering ke bengkel, masukin persenelingnya aja kayak gini!

Balesin SMS:
6 weeks : iya sayang, bentar lagi nyampe rumah koq, aku beli martabak kesukaanmu dulu ya.
6 months : macet bgt di jln nih.
6 years : ok.

Back from Work:
6 weeks : Honey, I’m home.
6 months : I’m BACK!!
6 years : What did you cook for us today??

Hadiah (ulang tahun):
6 weeks : Sayangku, kuharap kau menyukai cincin yang kubeli.
6 months : Aku membeli lukisan, cocok dengan suasana ruang tengah.
6 years : Nih duitnya, loe beli sendiri deh yang loe mau.

Telepon:
6 weeks : Baby, ada yang pengen bicara ama kamu di telpon.
6 months : Eh…ini buat kamu nih…
6 years : WOOIII TELPON BUNYI TUUUHHH….

Masakan:
6 weeks : Wah, tak kusangka rasa makanan ini begitu lezaattt…!!!
6 months : Kita makan apa malam ini??.
6 years : HAH? MAKANAN INI LAGI?

Apology:
6 weeks : Honey muffin, don’t you worry, I’ll never hold this against you.
6 months : Watch out! Don’t do it again.
6 years : What’s not to understand about what I just said??

Baju baru:
6 weeks : Duhai kasihku, kamu seperti bidadari dengan pakaian itu.
6 months : Lho, kamu beli baju baru lagi?
6 years : BELI BAJU ITU HABIS BERAPA??


sumber
maaf lupa, qiqiqiqi 

~(˘˘~) Ù©(´`)Û¶ (~˘˘)~~(˘˘~) Ù©(´`)Û¶ (~˘˘)~

Continue reading...

Setan atau Malaikat?


Mahluk yang paling menakjubkan adalah manusia, karena dia bisa memilih untuk menjadi “setan atau malaikat”.
–John Scheffer-

Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya. Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya.

Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Yudi, anak saya?

Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri. Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah seminggu tidak masuk.

Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk.

Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon. Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi dizaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah?

Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya.

Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul.

Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi. Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.

Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu. Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.

Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang.

Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan?

Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti ini:

—–

“Ibu yang baik…, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya.

Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu.

Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras.

Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya ngamen. Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu.

Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya?

Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya memukulnya lagi.

Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan.

Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang. Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet.

Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih.

Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter. Tapi Ibu…, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita.

Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu…, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf.”

—–

Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya.

Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya.Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja.

Kang Yayan dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya.

Saya menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa sekali-sekali. Saat saya ulang tahun, Kang Yayan menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia, lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan.

Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Yayan dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir dimata saya.

Yuni menghampiri saya dan bilang, “Mama, saya bangga jadi anak Mama.” Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya.

sumber
Dari catatan temen di facebook Rony Adi Prasetyo

NB : Ambil Pesan dari ceritanya ya  ˘) ˘) ˘)
Continue reading...

Jumat, Agustus 27, 2010

Why Men Don't Listen & Women Can't Stop Talking


Cewek berbeda dari cowok. Itu jelas. Kalo cowok mo ke toilet, biasanya dia pergi memang ada maksud dan tujuannya yang jelas, yaitu buang air (besar atau kecilnya nggak usah dibahas lah yau!) Tapi cewek ke toilet selain tujuan utama, bisa aja ada tujuan lain, karena mo ngobrol atau pengen curhat sama temen cewek lainnya (terutama nyurhatin soal Pujaan Hati, kan ini satu-satunya tempat si PH nggak bisa ikutan masuk).

Jadi jangan heran kalo cewek sering ngajak-ngajak cewek lain kalo mo ke toilet. Coba kalo Bang Darman tiba-tiba bilang gini ke Heri, "Her, gue mo ke toilet, ikut yuk?" Apa nggak bakal bengong tampang para mudikans...

Sebagian besar cowok suka mendominasi remote control TV dan gonta-ganti channel pas lagi iklan; padahal cewek nggak apa-apa
tuh kalo nonton iklan. Kalo stress, cewek nyari coklat dan pergi
shopping; kalo cowok stress,yang ngerokok pasti langsung ngepul asapnya, kalo nggak bisa jadi marah-marah atau malah diem aja. "Cowok itu kurang sensitif, nggak ngasih perhatian, nggak dengerin kalo kita lagi ngomong, nggak hangat, suka diem aja, nggak keliatan sayangnya, nggak berani punya komitmen!"

''Cewek itu jarang yang bisa nyetir, kalo baca peta suka salah, suka bingung sendiri lagi ada di mana, kalo ngomong nggak
bisa berhenti, udah gitu nggak ketauan maksudnya mo ngomongin apa, emangnya gue bisa baca pikirannya" Sounds familiar nggak sih? Banyak hubungan cowok-cewek yang jadi ruwet karena cowok nggak ngerti kenapa cewek itu jalan pikirannya nggak bisa seperti cowok, dan cewek berharap
cowok-cowok itu bisa ngerti jalan pikiran cewek. Nah, berangkat dari ke-frustasi-an hubungan cowok cewek di jaman modern ini, sepasang suami istri Allan & Barbara Pease mengumpulkan hasil riset dari segala penjuru dunia dan dirangkum dalam buku mereka yang berjudul, "WhyMen Don't Listen & Women Can't Read Map".

Tapi, atas usul temen teman yang lain judul artikel ini diganti menjadi "Why Men Don't Listen & Women Can't Stop Talking".
Inti dari buku tersebut adalah bahwa cowok dan cewek itu sebenernya telah berevolusi secara fisik tapi masih membawa kebiasaan dari cowok-cewek jaman purba.Pas jaman purba kan cowok berburu, cewek tinggal di gua. Cowok melindungi,cewek mengurus anak. Sebagai akibatnya, tubuh dan otaknya pun berkembang mengikuti kebiasaan jaman purba ini. Selama
jutaan tahun, struktur otak cowok dan cewek terus berubah dengan caranya masing-masing. Sampailah kita pada jaman modern ini, di mana ternyata cowok dan cewek itu berbeda dalam memproses informasi yang masuk ke otaknya. Jalan pikirannya memang berbeda. Pengertiannya akan suatu hal
pun berbeda. Persepsi, prioritas dan tingkah lakunya juga beda.

Kasus mentega di kulkas Setiap cewek di dunia pasti pernah mengalami ini.

Kisahnya berawal dari cowok yang berdiri di depan kulkas yang terbuka...
Cowok : "Menteganya mana ya?"
Cewek : "Di dalem kulkas"
Cowok : "Nggak ada tuh" - sambil celingak-celinguk ke dalem kulkas...
Cewek : "Kok bisa nggak ada? Dari dulu juga ditaruh di kulkas" Cowok : "Mana? Nggak ada. Gue udah cari. Nggak ada apa-apa tuh di kulkas"

Terus si Cewek akhirnya harus ikutan ke dapur, ikutan ngelongok ke kulkas dan ... secara ajaib bin sulap, tangannya udah megang mentega.

Apa komentar selanjutnya dari si Cowok? "Ditaruhnya di situ sih...
terang aja tadi nggak keliatan!" Kejadian semacam ini juga terulang kembali, ketika si Cowok mencari selai Strawberry dan tidak ketemu. Dia hanya menemukan selai Nanas, padahal selai Strawberry itu ada di belakang selai Nanas ... haiya, cowok.

Cowok kadang ngerasa cewek suka ngerjain mereka dengan
cara ngumpetin barang-barang di laci atau lemari. Baik itu mentega, selai, gunting, handphone, kunci mobil, kunci rumah, dompet - semuanya sih sebenernya ada di situ. Tapi entah kenapa mata cowok kayaknya nggak bisa ngeliat.

Alasan sebenernya nih adalah karena cewek punya jangkauan sudut pandangan yang lebih besar daripada cowok. Bila diukur
dari hidung, bisa mencapai 45° ke arah kiri-kanan-atas-bawah, bahkan ada yang mencapai 180°. Jadi cewek bisa liat isi kulkas atau lemari tanpa menggerakkan kepalanya. Sementara cowok kalo ngeliat sesuatu lebih terfokus dan otaknya memproses seolah mereka ngeliat dalam terowongan yang panjang.

Alhasil, mereka bisa ngeliat jelas dan akurat apa yang
ada tepat di depan mata dan jaraknya lebih jauh, hampir mirip
seperti ngeliat lewat teropong.

Penelitian lain juga mengungkapkan bahwa otak cowok mencari kata M-E-N-T-E-G-A atau S-T-R-A-W-B-E-R-R-Y di kulkas. Kalo
kotak mentega atau botol selainya salah arah, udah nggak keliatan deh. Makanya selama mencari kepalanya celingukan terus karena berusaha menemukan benda yang 'hilang'tersebut. Sebenernya ada implikasi lain dari perbedaan besar sudut pandang ini.Dengan sudut pandang yang jauh lebih besar dari cowok, mata cewek bisa ngelaba tanpa perlu takut ketahuan.

Sementara kalo cowok, udah pasti kena tuduh atau ketangkep basah kalo matanya lagi jelalatan. Penelitian mengungkapkan bahwa : mata cewek ngeliat bodi-bodi cowok sama seringnya, bahkan lebih sering, daripada cowok ngeliatin bodi-bodi cewek. Tapi,dengan daya pandang yang jauh lebih superior,
cewek jarang ketahuan...

Kenapa Cewek Bisa Ngomong Terus ?
Dalam struktur otak cewek, kemampuan untuk berbicara
terutama ada di bagian depan otak kiri dan sebagian kecil di otak
sebelah kanan. Sementara buat cowok, kemampuan berbicara dan bahasa itu bukan kemampuan otak yang kritis. Adanya pun cuma di otak kiri dan tidak ada area yang spesifik. Jadi jangan heran kalau cewek seneng ngomong dan banyak pula yang diomongin, karena kedua belah otaknya mampu bekerja sekaligus.

Otak cowok itu terkotak-kotak dan mampu memilah-milah
informasi yang masuk. Di malam hari, setelah seharian penuh
aktivitas, cowok bisa menyimpan semuanya di otaknya. Sementara otak cewek tidak bekerja seperti itu -informasi atau masalah yang diterimanya akan terus berputar-putar dalam otaknya. Dan ini nggak akan berhenti sampe dia bisa mencurahkan isi otaknya alias curhat. Oleh sebab itu,
kalo cewek bicara, tujuannya adalah untuk mengeluarkan uneg-unegnya, bukan untuk mencari kesimpulan atau solusi. Cewek juga berusaha membangun hubungan lewat
pembicaraan. Rata-rata cewek bisa bicara 20 ribu kata
dalam sehari. Sementara cowok hanya sekitar 7 ribu kata sehari.

Perbedaan ini kelihatan jelas ketika jam makan malam tiba. Cowok sudah menghabiskan 7 ribu katanya dan nggak mood untuk bicara lebih lanjut. Persediaan si cewek tergantung dari apa yang sudah ia lakukan sepanjang hari. Kalau dia sudah banyak berbicara dengan orang lain hari itu, dia pun akan
sedikit berbicara. Kalau dia tinggal di rumah saja, mungkin ia sudah menggunakan 3 ribuan kata. Masih ada 17 ribu lagi! Cowok cuman bisa melakukan satu hal pada suatu waktu! Semua penelitian yang ada menemukan bahwa otak cowok lebih terspesialiasi, terbagi-bagi. Otak cowok berkembang sedemikian sehingga mereka hanya dapat berkonsentrasi pada satu hal yang spesifik pada suatu saat, sehingga sering mereka bilang
mereka bisa ngerjain semuanya tapi 'satu-satu donk'.

Continue reading...

untitled


Novita mendapati Diztha sedang baru saja keluar dari dalam kamar Valent. Sangat mengejutkan. Novita tak langsung meninggalkan keadaan itu begitu saja. Ia memerhatikan Diztha dari atas sampai bawah dengan tatapan baik-baik saja, tak ada kecurigaan atau tatapan tidak mengenakkan di sana. Diztha, yang saat itu berdiri mematung di pintu masuk kamar Valent, hanya bengong. Valent, yang baru saja muncul dari dalam langsung tak percaya melihat Novita ada di depan kamarnya.

“Nov...” panggilnya tiba-tiba. Ia merasakan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.

Novita menunduk. Sementara itu, Diztha hanya menggigit bibir ranumnya.

Valent mendekati Novita berdiri. Saat Valent sudah di depannya, mata Novita berkaca-kaca.

Dengan perasaan yang dikuat-kuatkan ia berkata, “Undangan udah naik cetak, gedung udah aku DP, dan baju pengantin udah tinggal fitting...”

Valent menyentuh tangan Novita, namun yang disentuh menghindar.

“Aku bisa jelasin... tolong, jangan nyangka yang macem-macem dulu...”

Novita berusaha mengusap air mata yang terus menetes itu.

“Nov, pliisss...”

Novita menarik napas panjang. Sedangkan Diztha, sekarang makin menunduk dan tak tahu harus berkata apa. Ia masih berdiri mematung, menyaksikan diam-diam drama kedua sejoli itu.

“Aku ngehargain kamu banget, Val. Aku bukannya nggak patuh sama kamu hari ini aku nggak boleh dateng ke rumah kamu, aku cuman pengin bikin surprised, aku bikinin kue kesukaan kamu hari ini, aku pikir, aku dateng nekat ke rumah bisa bikin kejutan, tapi ternyata kamu yang bikin kejutan buat aku,” suara Novita sangat melemah.

Novita terisak lagi.

“Aku...” Valent tak mampu berkata-kata. Lidahnya terasa kelu melihat Novita bercucuran air mata seperti itu.

Diztha menengahi mereka. Ia berjalan mendekati mereka.

“Novita, gue sama Valent nggak ngapa-ngapain, lo nggak usah takut. Gue cuman berkunjung doank ke rumahnya, dan kebetulan lo liat gue lagi berkunjung ke kamarnya. Percaya deh sama gue! Tolong... sebentar lagi kalian merit, nggak banget kalo gara-gara ini kalian ribut sebelum merit...” kata Diztha santai.

Valent melirik tajam ke arah Diztha. Diztha merasa ada kata-katanya yang salah padahal menurutnya bisa membuat Novita semakin lebih baik.

Valent membalikkan tubuhnya. Ia mendesah kesal.

“Aaaaarrggghhh!!!!” teriaknya kencang. Novita malah semakin terisak.

Diztha meninggalkan mereka begitu saja. Ia berjalan ke dalam kamar Valent lagi, mengambil tasnya lalu sebelum melanjutkan langkah ke arah pintu keluar rumah Valent, ia berkata, “Sorry Nov... gue nggak tau harus gimana hadepin ini. gue ngrasa posisi gue dimanfaatin sama calon suami lo. tapi jujur, Valent sayang banget sama lo... dia sangat amat bersedia merit sama lo. lo jangan takut dia bukan seorang suami yang baik. Kejadian ini cuman bentuk kekhawatiran Valent melepas masa lajangnya aja. Dia pengin berbagi sama gue dan gue pikir, itu nggak salah. Jadi, dalam hal ini nggak ada yang salah menurut gue. Sorry, gue harus pergi.”

Valent mengerutkan alis.

“Thanks. Tapi nggak mudah buat Novita bisa menerima ini,” ujar Valent.

“Itu urusan lo, Val. Udah gue bilang dari awal, lo nggak nurut sama gue. Terserah. I have still many things to do.”

Diztha pergi begitu saja. Novita masih terisak. sekarang bertambah dalam. Novita pindah tempat. Ia berjalan ke ruang tengah depan kamar Valent lalu duduk di sofa panjang depan teve.

Valent memerhatikannya dari jauh. Tak cepat mengikuti langkah Novita agar bisa duduk-duduk berdua di sana. Ia bingung, tak tahu harus mulai bicara dari mana. Akhirnya, ia memutuskan untuk jangan dulu mengajak Novita bicara dan berusaha memberinya waktu untuk tenang lebih dulu. Lalu ia masuk ke dalam kamar lagi. Entah apa yang dilakukannya di dalam, ia hanya ingin Novita bisa tenang dulu.

Novita masih menangis, tapi tak sedalam tadi. Sekarang ia terlihat lebih tenang. Sambil membuka-buka ponselnya, ia juga sudah mengusap lembut air matanya yang tengah kering.

Beberapa menit kemudian Valent keluar kamar. Ia memberanikan diri mendekati Novita. Ia duduk di samping Novita yang sedang mengetik sebuah pesan dalam ponselnya.

“Nov...” panggil Valent perlahan.

Novita masih sibuk dengan ponselnya.

“Nov...” ulangnya.

Novita mendongak. Sekarang sedang melihat dalam ke kedua mata Valent. Valent balas menatapnya, namun lidahnya masih terasa kelu hingga sulit sekali untuk berkata perkataan yang ia ingin katakan itu.

Novita menarik napas panjang lagi. Air matanya telah kering dan sekarang telah siap untuk mengatakan sesuatu kepada Valent.

“Aku nggak ngerti, Val...” ucap Novita dengan sangat lembut, “tiga bulan itu bukan waktu yang lama. Tiga bulan lagi kita akan menikah...”

Valent mendesah berat.

“Aku tahu, Nov...”

“Kamu tahu apa?”

“Aku tahu aku salah.” Valent mengutuk dirinya sendiri. Sangat bodoh, pikirnya.

“Kenapa Diztha bisa ada di sini?” tanya Novita pelan. Emosinya sudah stabil dan berusaha membuat suasana panas itu menjadi biasa saja.

“Aku dan dia baru aja saling janji setelah ini nggak akan saling peduli lagi ke kehidupan masing-masing. Perlu ada penegasan buat dia sebagai mantan aku. Karena itu, aku butuh waktu khusus buat menegaskan itu ke dia. Waktunya itu tepat hari ini, yang tepat juga kamu dateng ke sini.”

“Kenapa harus dibicarakan di dalam kamar?”

Wajah Valent memerah. Ia tahu, hal ini sangat sulit untuk dijelaskan kepada Novita.

“Diztha ngambil benda-benda miliknya yang sempat tersimpan di kamar aku,” jawab Valent singkat.

Novita mendesah berat.

“Aku marah banget sama kamu.”

Valent memejamkan matanya sejenak sembari menarik napas dalam lalu menghembuskannya lagi.

Tiba-tiba Novita menangis sesegukan. Sementara Valent, masih terdiam terpaku di tempatnya. Masih sama, tanpa sepatah-kata pun.

Tapi kemudian Novita mengumpulkan keberaniannya untuk berkata lebih tegas lagi kepada Valent. Walaupun air matanya masih menetes begitu saja, ia berusaha sekuat mungkin menahan diri untuk tidak menangis hebat lagi. Tak boleh cengeng, katanya dalam hati.

“Aku bisa membatalkan semua rencana pernikahan kita kalo kamu memang terpaksa menikah sama aku. Seandainya kejadian ini terjadi sebelum aku menentukan gedung, catering, baju, bahkan tanggal pernikahan, aku bakal batalin semuanya, Val. Aku lebih mengutamakan perasaan daripada semua itu. kalo kamu belum bisa melepas dia, silakan menikah dengannya. aku nggak bisa maksain karena kamu lebih tahu gimana semenggebunya keluarga kita untuk menyatukan kita berdua,” ucap Novita sangat jelas. Suaranya tak separau tadi walaupun sekarang air matanya lebih banyak bercucuran.

Valent terlihat agak gusar namun masih menunjukkan wajah tenang.

“Nggak segampang itu, Nov. Aku nggak akan setuju sampai kapanpun seandainya kamu membatalkan pernikahan hanya karena gara-gara perasaan aku ke mantan aku. Something stupid. Aku udah nggak sebegitunya sama dia, bahkan kamu itu udah segalanya buat aku. Aku pikir, ini bukan sebuah masalah untuk kita.”

“If I were everything for you, why wouldn’t you tell me about this before?”

“Rencananya malem ini aku ke rumah kamu. Aku mau membicarakan semuanya, semua-muanya. Dari mulai akad nikah maunya gimana, prosedur resepsi pernikahan, mau pake adat Batak atau Jawa, enaknya seperti apa, tambahan para undangan buat temen-temen aku di luar. Aku mau bahas itu semua.”

Novita berpikir sejenak, perasaan masalah itu udah dibahas semua, deh.

“Nggak bahas Diztha?” tanyanya.

“She’s not our topic. Belakangan ini, aku sangat mempersiapkan pernikahan dan tentu masa depan kita. Kamu salah besar kalo kehadiran Diztha tadi dianggap jadi tempat pelampiasan aku.”

Novita sempat tersentak. Ia tak menyangka Valent akan berkata seperti itu.

“That’s it,” tambah Valent.

Novita masih belum meresponnya.

“Aku mau pulang sekarang. Aku butuh waktu buat berpikir. Maaf...” Novita merapikan diri ingin cepat pulang sekarang. Valent tidak mencegahnya.

“Aku juga butuh waktu buat ngomong sama kamu...”

Novita hanya mengangguk pelan dan berjalan keluar rumah. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya.

“Oya, tadi pagi aku bikin brownies. Itu... aku taruh di sofa.”

“Ok. Makasih...” balas Valent dengan senyuman sambil mengiringi langkah Novita menuju pintu.

Novita hanya memperlihatkan ekspresi datar lalu ia segera beranjak dari rumah Valent.

Setelah bayangan Novita hilang dari hadapannya, yang hanya menyisakan kepulan knalpot saja, Valent kembali masuk ke dalam. Valent kembali duduk terdiam di sofa panjang depan teve tadi. Matanya menerawang ke depan, sedikit memikirkan kejadian tadi, namun sangat ia usahakan untuk membuat semuanya kembali normal.

Tangannya meraih sesuatu dari dalam saku jeansnya lalu jari-jarinya mendial beberapa angka yang sangat ia hapal itu. Tak lama kemudian ada respon di sana.

“Apalagi...?” sapa seseorang di seberang dengan awal kalimat sebuah pertanyaan.

“Sorry... gue nggak tahu Novita dateng ke rumah,” ujar Valent agak sedikit gugup.

“Udah laaah... gue capek, Val! Jangan sangkut-pautin diri gue sama masalah lo dan Novita. Plis! Gue udah nggak mau tahu lagi.”

“Gue cuman pengin... gue akhirin hubungan gue sama lo dengan baek-baek, Diz, karena gue juga ngawalin hubungan gue dengan baek-baek juga. Di saat gue memulai kehidupan gue yang baru bersama Novita, gue pengin kehidupan lama gue tak menyisakan penyesalan buat gue dan salah satu caranya, lo mau dengerin semua yang pengin gue ungkapin. Tapi ternyata nggak semulus itu apa yang udah gue rencanain.”

“Plis, Val...! kalo lo masih berharap gue bisa dengerin lo, lo masih ngasih kesempatan gue buat menikmati waktu sama lo. Udah laah... udah aja... gue capek, Val!!!”

“Maafin gue, Diz...”

“Nggak ada yang perlu dimaafkan dan meminta maaf...”

“Plis Diz... kasih gue kesempatan buat ketemu lo sekali lagi. Plisss!!!”

“Nggak bisa.”

“Diz, cuman cara itu yang bisa bikin gue tenang sebelum gue menikah.”

“Terserah lo, Val!”

"Just to make sure that you are okay."

"Terserah!"

"Gue nggak bisa bayangin idup gue gimana kalo sebelum merit gue ngrasa bersalah sama lo. Plis, kasih gue kesempatan."

"Terserah! Gue bilang, itu semua terserah lo."

“Ok. Gue dateng ke tempat lo jam sepuluh malem nanti. Thanks.”

Klik. Telponpun terputus.


sumber

lupa lagi, comment ya klo tau

Continue reading...

MENCOBA MEMAHAMI PEREMPUAN


Bacalah, dengan sedikit saja harap-harap cemas.


Bisakah Anda memahami perempuan? Saya segera melarikan diri jika ada yang menjawab bisa. Bukan karena membingungkan, tapi karena perempuanlah makhluk yang paling ambigu. Kita tidak pernah tahu pentingnya mereka bagi kita sampai kemudian kita kehilangan mereka. Kita tidak akan pernah bisa memahami kenapa mereka bersedia berpakaian seksi, kelayapan di mall, tapi menolak untuk dipelototi. Kita juga tidak pernah bisa memahami kenapa mereka bersedia melakukan operasi pengencangan payudara (artinya payudara mereka selanjutnya terbuat dari plastik, sama dengan ember) padahal mereka tahu bukan bagian itu yang membuat kita mencintai mereka.

Saya tidak pernah bisa memahami mereka. Dan tidak ingin mencoba lagi. Bukan karena saya kapok. Tapi karena saya tidak akan pernah bisa. Bisakah Anda memahami kenyataan berikut ini: mereka sangat seksi dengan pakaian dalam miu-miu tapi menjadi biasa saja ketika telanjang bulat? Mereka bisa sangat menggairahkan dengan rok yang tersingkap sedikit saja dan memaksa kita berpikir yang tidak-tidak, tapi kemudian malah terlihat lucu ketika telanjang sebab ada sisa lemak di sana-sini. Mereka jugalah yang bersedia memakai bra dengan penopang kawat, supaya kita memperhatikan dan mengaguminya dengan takjub. Minimal supaya kita tidak melihat ’isi kawat’ tetangga.

Bisakah Anda pahami semua itu?

Semua perempuan matre: sebab mereka menyukai keindahan, dan keindahan adalah daftar harga yang harus kita bayar. Hanya alam yang memberikan keindahan secara gratis, meskipun jalan menuju ke sana tetap harus bayar. Semua perempuan suka dipuji: sebab mereka menikmati pujian. Tapi pujian yang berlebih dan tidak tepat waktu justru membuat mereka jengah. Pujian Anda akan dimaknai gombal, walaupun mereka tetap suka digombali. Hampir semua perempuan mencintai anak kecil, dan mereka jugalah yang mengidap baby blues. Hampir semua perempuan mengatakan hal ini: gue capek nangis mempertahankan hubungan kita. Dan itu dikatakan sambil menangis. Hampir semua perempuan mengidap sindroma ini: pada usia 17 – 23 tahun selalu come up dengan pertanyaan siapa el-lu. Pada usia 24 – 29 tahun come up dengan pertanyaan siapa gue. Pada usia 30 – 35 tahun come up dengan pertanyaan siapa aja deh pokoknya kimpoi.

Hampir semua perempuan menangis usai mengucapkan ijab-kabul, dan membiarkan kita bingung sendiri mengartikan tangisan itu ekspresi rasa gembira atau ekspresi menyesal telah menikah dengan kita. Perempuan jugalah yang dianugerahi kelebihan terutama mencium bau busuk selingkuh kita. Sesekali mungkin Anda bisa menipu mereka, tapi mereka cepat belajar. Perempuan jugalah yang sanggup datang menemui wanita selingkuh kita, mengajaknya belanja dan nyalon bersama, mengajaknya meni-pedi, sambil meminta si wanita melepas kita untuk kembali ke rumah secara baik-baik, dan tak bercerita apa pun ke kita karena justru selingkuhan kita yang bercerita. Perempuan jugalah yang bisa menahan rasa sakit 9 kali lebih baik dari kita pria.

Masihkah Anda berusaha memahami mereka?

Usaha memahami perempuan, sejatinya, bukan usaha yang sia-sia. Minimal kita tahu pada akhirnya kita selalu gagal memahami mereka. Mereka bisa sangat tahu hadiah apa yang kita butuhkan di hari ulang tahun kita. Tapi kita harus bertanya ke temannya hadiah apa yang pas untuknya di hari ulang tahunnya. Kita menyerahkan sepenuhnya kepada mereka pilihan film yang akan ditonton, dan sesampai di dalam kita memikirkan hal lain yang tidak berhubungan dengan film tersebut. Ketika mereka bertanya apakah kita menikmati filmnya, dengan semangat tipsani (tipu sana-sini) kita berujar: owh, tentu. Kamu yang milih kan. Kita tidak berani mengatakan film itu membosankan, hanya karena kita tidak ingin menyinggung perasaan mereka. Kita selalu mengganggap mereka fragile, lemah. Tapi ketika mereka mengatakan enough is enough, kita yang datang menyembah termehek-mehek dengan janji sejuta surga. Anehnya, kadang mereka percaya akan ada sejuta surga.

Jika ada orang ke tiga di antara kita dan mereka, biasanya kita menyelesaikannya dengan ancaman, dengan hardikan. Sedangkan mereka menyelesaikannya dengan cara yang lebih elegan: mandi selama mungkin, berdandan secantik mungkin, tersenyum seyahud mungkin, dan menyapa seindah mungkin. Mereka hendak mengatakan, hei..., see, saya lebih cantik dari perempuan yang hendak mengganggumu itu. Cupunya kita, men’s talk selalu sekitar paha dan dada: siapa sudah mencicipi siapa, siapa sudah merasakan siapa, siapa dengan ukuran berapa, siapa sempit siapa lebar, siapa basah siapa kering –seakan-akan ukuran, sempit, kering menjadi penting kalau tidak akan terjadi kiamat. Sementara girl’s talk selalu tentang siapa lebih charming dari siapa, siapa yang ingin mencium siapa. Sesekali mereka juga membahas ukuran, tapi biasanya dilakukan untuk lucu-lucuan saja.

Kita sering membahas ukuran mereka. Padahal ketika ’pertandingan mencangkul sawah’ dilaksanakan, kita jarang ’menunggu’ mereka. Bagi mereka, keluar bareng adalah ekspresi cinta sejati. Tapi bagi kita keluar bareng adalah ekspresi usai nonton bioskop. Ini bukan soal jender, tapi kenyataan bahwa kita tidak mampu memahami kedalaman cinta mereka. Kita selalu mahir berkisah tentang pekerjaan-pekerjaan kita, tentang dunia yang hendak kita raih, dengan sedikit bumbu di sana-sini, dan mereka kita minta mendengarkan saja dengan takjim. Ketika mereka bercerita tengtang Zara, tentang Nine West, kita mulai menempelkan stiker matre ke kening mereka. Padahal, hei, mereka menyukai keindahan, yang ujung-ujungnya akan dipersembahkan kepada kita. Kita saja yang tidak mampu memahami maknanya.

Pernahkah Anda memeriksa fakta berikut ini: dibanding ayah Anda, ternyata Ibu Anda lebih sering tidur belakangan untuk membenahi semua hal, dan bangun lebih dulu untuk memulai semua hal. Periksa baik-baik fakta berikut ini: dibanding ayah Anda, ibu Anda lebih sering mengkhawatirkan keselamatan Anda!

Tahukah Anda kenapa perempuan suka menggunakan pakaian dalam warna hitam? Selain karena terlihat seksi, elegan, dan penuh misteri, juga karena mereka ingin menghidupkan kenangan kita akan emak kita dulu. Selalu ada sifat kanak-kanak dalam diri semua laki-laki, dan selalu ada sifat ingin diasuh, oedipus complex, dalam diri kita. Dan mereka tahu itu. Mereka mungkin menyukai warna biru, sesekali warna krem atau pink dengan renda di sekeliling untuk membantu menghiasi hari-hari mereka. Mereka mungkin saja memilih warna putih untuk memulai hari. Atau warna merah tua ketika mereka ingin tampak seksi. Tapi warna hitam tetap favorit mereka. Satu dari satu perempuan mempunyai pakaian dalam warna hitam. Jangan tanyakan ke mereka, karena mungkin saja mereka sedang memakainya.

Jangan karena ayat suci menyatakan ”istrimu adalah sawah, cangkullah sesukamu’ maka kita merasa mendapat hak untuk menghampiri mereka kapan saja di mana saja. Tidakkah Anda cukup mendapat informasi bahwa seminggu sebelum dan seminggu setelah mereka period adalah masa emas mereka untuk ’dicangkul’? Tidak perlu menjadi ahli roket untuk mengetahui hal remeh itu. Mereka bahkan bersedia mengingatkan kita akan tanggal-tanggal keramat itu. Pada tanggal 23 setiap bulan mereka akan suka cita berkata eh, tanggal 25an aku period loh. Ketahuilah, itu sign, tanda, bukan tanggal gajian.

Begitulah, kalau Anda masih mampu selingkuh setelah mendapatkan pelayanan sehebat itu, kini justru Anda yang sulit saya pahami.


sumber

lupa..biasa klo ada yang tau jangan lupa comment ya.thx

Continue reading...

Karena Kau Tulang Rusukku


Sebuah senja yang sempurna, sepotong donat, dan lagu cinta yang lembut. Adakah yang lebih indah dari itu, bagi sepasang manusia yang memadu kasih? Raka dan Dara duduk di punggung senja itu, berpotong percakapan lewat, beratus tawa timpas, lalu Dara pun memulai meminta kepastian. ya, tentang cinta.

Dara : Siapa yang paling kamu cintai di dunia ini?
Raka : Kamu dong?
Dara : Menurut kamu, aku ini siapa?
Raka : (Berpikir sejenak, lalu menatap Dara dengan pasti) Kamu tulang rusukku! Ada tertulis, Tuhan melihat bahwa Adam kesepian. Saat Adam tidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan Hawa. Semua pria mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita untuknya, tidak lagi merasakan sakit di hati."

Setelah menikah, Dara dan Raka mengalami masa yang indah dan manis untuk sesaat. Setelah itu, pasangan muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan masing-masing dan kepenatan hidup yang kain mendera. Hidup mereka menjadi membosankan. Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain.

Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai menjadi semakin panas. Pada suatu hari, pada akhir sebuah pertengkaran, Dara lari keluar rumah. Saat tiba di seberang jalan, dia berteriak, "Kamunggak cinta lagi sama aku!"

Raka sangat membenci ketidakdewasaan Dara dan secara spontan balik berteriak, "Aku menyesal kita menikah! Kamu ternyata bukan tulang rusukku!"

Tiba-tiba Dara menjadi terdiam , berdiri terpaku untuk beberapa saat. Matanya basah. Ia menatap Raka, seakan tak percaya pada apa yang telah dia dengar.

Raka menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan. Tetapi seperti air yang telah tertumpah, ucapan itu tidak mungkin untuk diambil kembali.

Dengan berlinang air mata, Dara kembali ke rumah dan mengambil barang-barangnya, bertekad untuk berpisah. "Kalau aku bukan tulang rusukmu, biarkan aku pergi. Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan sejati masing-masing."

Lima tahun berlalu.
Raka tidak menikah lagi, tetapi berusaha mencari tahu akan kehidupan Dara. Dara pernah ke luar negeri, menikah dengan orang asing, bercerai, dan kini kembali ke kota semula. Dan Raka yang tahu semua informasi tentang Dara, merasa kecewa, karena dia tak pernah diberi kesempatan untuk kembali, Dara tak menunggunya.

Dan di tengah malam yang sunyi, saat Raka meminum kopinya, ia merasakan ada yang sakit di dadanya. Tapi dia tidak sanggup mengakui bahwa dia merindukan Dara.

Suatu hari, mereka akhirnya kembali bertemu. Di airport, di tempat ketika banyak terjadi pertemuan dan perpisahan, mereka dipisahkan hanya oleh sebuah dinding pembatas, mata mereka tak saling mau lepas.

Raka : Apa kabar?
Dara : Baik... ngg.., apakah kamu sudah menemukan rusukmu yang hilang?
Raka : Belum.
Dara : Aku terbang ke New York dengan penerbangan berikut.
Raka : Aku akan kembali 2 minggu lagi. Telpon aku kalau kamu sempat. Kamu tahu nomor telepon kita, belum ada yang berubah. Tidak akan ada yang berubah.

Dara tersenyum manis, lalu berlalu.
"Good bye...."
Seminggu kemudian, Raka mendengar bahwa Dara mengalami kecelakaan, mati. Malam itu, sekali lagi, Raka mereguk kopinya dan kembali merasakan sakit di dadanya. Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah karena Dara, tulang rusuknya sendiri, yang telah dengan bodohnya dia patahkan.

"Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal"


sumber
lupa, klo ada yang tau comment ya.thx
Continue reading...
 

Cookies Copyright © 2009 Designed by Ipietoon Blogger Template In collaboration with fifa
Cake Illustration Copyrighted to Clarice